Raden Sirait Pamer Kebaya ala Papua & India

Raden Sirait pamer kebaya ala Papua & India. (Foto: Dwi Indah Nurcahyani) RAGAM budaya Nusantara dan internasional menjadi inspirasi sekaligus sebuah kesatuan indah yang tersaji dalam balutan sebuah kebaya.

Keindahan kebaya memang selalu menarik untuk dieksplorasi lebih dalam. Ada banyak sisi yang bisa diolah untuk menampilkan keindahan busana adiluhung tersebut, tak terkecuali budaya internasional.

Berlatar belakang kondisi tersebut diusung Raden Sirait dalam pergelaran tunggal “Kebaya For The World: Journey of Love, Lima Tahun Cinta Raden Sirait untuk Kebaya”.

Dalam perhelatan bertema teatrikal tersebut, pria asal Porsea itu menyajikan balutan indah kebaya yang mengakulturasi budaya lokal dan luar sebagai inspirasi. Sebanyak 155 lebih kebaya yang dipamerkan sengaja dibuat mewakili budaya masing-masing.

Sebuah sekuel dari 15 sekuel yang dibawakan pada hajatan akbar malam itu mengetengahkan busana khas Nusantara.

Kebaya ala Papua yang identik dengan rumbai-rumbai, kebaya Makassar dengan gaya sasaknya, kebaya ala Sunda yang khas dengan kerah dan belahan runcing di bagian bawah, serta kebaya Jawa, Kalimantan, Sumbawa,  Jakarta, Bali, dan Batak tersaji indah dalam pergelaran berdurasi lebih dari 2,5 jam.

Selain mengedepankan unsur lokal, Raden juga mengadaptasi budaya luar dalam busana kebaya yang dipamerkannya. Penyuka traveling ini seperti menuangkan kecintaannya menyusuri sudut dunia dalam sajian busana.

“Sejak dulu saya memang suka traveling keliling dunia. Dari perjalanan itu, selain mendapatkan inspirasi, saya pun mendapat banyak kain dan aksesori yang unik dari berbagai negara. Semua material cantik tersebut saya kumpulkan dan kemudian saya gunakan dalam desain pada perhelatan ini,” kata Raden yang ditemui dalam konferensi pers di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (31/3/2011).

Dari 155 lebih busana kebaya yang ditawarkan Raden, 70 di antaranya merupakan masterpiece yang belum sempat dipublikasikan sama sekali. Karya-karya Raden yang mengerahkan 150 model, dan 32 artis dalam pergelaran tunggalnya itu juga mengakulturasi budaya luar seperti  Mesir, Inggris, Afrika, Argentina, China, Korea, Vietnam, Thailand, dan India.

Raden memang membuat kebaya dengan sentuhan khas masing-masing negara tersebut tanpa meninggalkan kekhasannya. Misalnya, kebaya ala Afrika yang diberi aksen macan tutul pada selendangnya, kebaya berbentuk jubah ala Ratu Cleopatra untuk mengentalkan nuansa Mesir, atau kebaya pendek sebatas dada seperti yang kerap digunakan penari khas India.

Meski mengakulturasi ragam budaya dari berbagai pelosok daerah, napas kebaya khas Raden tetap terasa. Itu terlihat dari potongan kebaya yang indah memeluk tubuh, penggunaan torso sebagai dalaman, serta potongan asimetris yang menjadi ciri khasnya. Tak hanya itu, Raden pun tetap mempertahankan material lokal sebagai penunjang busananya seperti ulos, songket, tulle, dan brokat.

“Tidak ada keharusan dalam kreativitas yang saya lakukan. Tapi saya tetap berpegang pada pakem yang menjadi ciri khas kebaya itu sendiri yakni memeluk tubuh dan penonjolan torso,” tutur Raden.

Ekspresi kebebasan dalam berkreativitas memang tak berbatas. Sejak kemunculannya lima tahun lalu, Raden sudah mengusung kebaya berpotongan asimetris serta menampilkan warna-warna berani dan provokatif seperti merah, hijau, biru, ungu, pink, gold dan warna terang lainnya yang mendominasi peragaan tunggal yang dihelatnya malam tersebut.

“Kebaya buat saya adalah inovasi. Tujuan utama saya memang membawa kebaya ke pentas dunia. Jadi kalau saya terbatas ini dan itu saya justru akan kesulitan membawa ‘Kebaya For The World’ ke luar. Makanya saya tampilkan modernisasi kebaya yang bisa dipakai dengan legging, boot, stoking, dan hot pants. Dengan cara seperti ini bukan tidak mungkin kebaya bisa masuk dalam pertunjukan sekelas broadway,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s